Missing You
"My life is incomplete, it's missing you"
***
Seorang gadis menatap nanar kearah langit dari balik jendela kamarnya ditemani angin malam yang sedikit menusuk tulang. Gadis itu menghembuskan nafasnya pelan.
"Ayah...."
Kalimat itu terlontar senada dengan hembusan angin. Entah kenapa, hari ini perasaan gadis itu terasa sangat kacau.
Perlahan tapi pasti kelopak mata cantiknya mengeluarkan cairan bening yang sudah beberapa hari ini dia tahan. Hanya satu yang ada dipikirannya, ia merindukan ayahnya. Gadis itu sempat mempunyai pemikiran untuk menyusul ayahnya ke surga. Dia sudah tidak sanggup lagi untuk sekedar berdiri dengan kakinya sendiri, dia sudah tidak sanggup memasang senyuman palsu setiap hari.
Lee Nagyung, gadis cantik berusia 20tahun itu telah kehilangan ayahnya 2 tahun yang lalu. Kala itu ayahnya sakit keras ; Riwayat TBC dan Gastritis. Mengingat bagaimana ketika dia menemani pria paruh baya itu disaat-saat terakhirnya,membuat nafas gadis itu menyesak.
Sosok cinta pertamanya bahkan pergi begitu cepat, meninggalkan 2 wanita rapuh dan tak berdaya. Air mata itu terus menerus mengalir, bahkan sang bintangpun menatap iba pada gadis itu. "Ayah, kenapa kau pergi begitu cepat? Aku bahkan belum sempat membuat ayah dan ibu bangga padaku. Ayah, aku harus mengadu pada siapa? Aku tidak ingin membuat ibu sedih. Aku...." Dia menjeda sebentar karena tertahan oleh perasaan yang meluap begitu saja dan juga tangis pilunya yang semakin menyayat hati.
"....aku merindukanmu...."ungkapnya disela tangisnya.
"Setiap hari rasanya terlalu sulit untuk aku hadapi.. aku bahkan bisa melihatmu dalam diri orang lain,Ayah!"
Cklek'
Suara pintu kamar terbuka, menampilkan seorang wanita paruh baya dengan gurat kelelahan yang terpatri di wajah cantiknya.
"Menangis saja tidak akan membuatnya kembali Nagyung-ah!" Suara khas yang terdengar sedikit bergetar membuat gadis itu menoleh dan mendapati sang ibu tengah berjalan kearahnya.
"Ibu...." Panggilnya lirih dengan mata dan hidung yang memerah karena menangis,gadis itu menghambur kepelukan sang ibu dan sang ibu menyambutnya dengan sebuah pelukan hangat.
Sang ibu yang memang sudah mendengar semua keluhan putrinya dari luar pun ikut menitikan air matanya, tangan halusnya membelai rambut putrinya berusaha memberikan ketenangan.
"Setiap pertemuan,pasti akan ada perpisahan. Siap atau tidak tuhan tidak akan bertanya tentang pendapatmu. Ayahmu sudah tenang dialam sana,yang harus kita lakukan adalah berdoa untuknya." Malam ini mereka habiskan untuk saling menguatkan satu sama lain.
-Selesai
See you on next Plot.
Whit love : JeongSj19
Komentar
Posting Komentar